Cerita Lumayan Pendek: Penjelajah Waktu

kalau melihat dari beberapa postingan saia di blog ini saia memang harus mengaku suka menulis. menulis apapun lebih tepatnya. mulai dari tulisan standar ala mahasiswa-yang-tidak-punya-pilihan-lain-selain-mencatat, tulisan mahasiswa-peserta-ujian-akhir-semester-yang-mengarang-indah, tulisan tentang keseharian saia yang random dan nggak mutu kemudian saia posting disini dengan pembaca yang kemungkinan besar nyasar, tulisan kode-kode rahasia NASA, sampek tulisan catatan hutang.

beberapa saat yang lalu (lagi-lagi) saia ikot lomba menulis cerpen dan (lagi-lagi) menang tanpa diumumkan karena (lagi-lagi) karya saia terlalu berbahaya bagi eksistensi masa depan panitia.

——————————————————————————————————————-

PENJELAJAH WAKTU

“Kikan, coba kamu turunkan rumusan yang sudah saya tulis di papan!”. Perintah semacam ini sudah sangat sering keluar dari dosen mekanikaku yang satu ini, beliau memang paling doyan menuliskan sebuah rumusan simpel di kelas dan meminta mahasiswanya untuk menurunkan rumusan itu menjadi lebih panjang dan lebar, tak jarang untuk mengerjakannya saja butuh satu papan penuh.

Aku tersenyum tipis, penurunan rumusan ini sudah menjadi makanan sehari-hariku sejak SMA. Entah kenapa aku ingin menertawakan Kikan yang sudah 4 kali menghapus dan menuliskan ulang jawabannya dengan sedikit ragu. Namun dalam waktu yang bersamaan juga, aku merasa ada sedikit aura buruk menyelimutiku dari arah bangku dosen di depan. Benar saja, pak Agus yang sebenarnya tidak berparas seperti dosen mekanika itu tersenyum misterius ke arahku.

“Bagaimana Kikan? Bisa?”. Pertanyaan ini hanya dijawab dengan senyum penuh penyesalan dari Kikan.

“baiklah, kamu boleh duduk. Sekarang coba kamu, Mey! Sekarang kamu lanjutkan pekerjaan Kikan di depan”. Aku tersenyum sekali lagi, meskipun pak Agus sempat melempar senyum misterius tadi ternyata tidak membuat beliau memanggil namaku untuk maju ke depan. Ya, namaku bukan Mey, walaupun sebenarnya aku sangat tidak keberatan untuk melanjutkan tugas Kikan.

Mey sudah selesai memenuhi papan tak berdosa di depan kelas dengan coretan-coretannya yang bisa saja membuatku katarak, tapi untung saja jawabannya sudah sama benarnya dengan jawaban yang sudah terlebih dahulu ku rangkai di bukuku sehingga aku tak pelu memelototi papan dengan mengorbankan kesehatan mataku. Senyumku kembali mengembang.

“sekarang kita coba rumusan ini kita bawa pada suatu permasalahan.. bla.. bla.. bla…”. ku lihat tangan pak Agus kembali menggelitik papan dengan spidol hitamnya. Satu dua garis tergambar hingga tercipta suatu gambar yang lumayan rumit. Ku alihkan pandanganku ke luar kelas. Sayup-sayup ku dengar suara hujan mulai terdengar diiringi dengan tetesan-tetesan yang terlihat dari kaca kelas. Aku suka sekali dengan bau huj…

“Geytha, coba sekarang kamu kerjakan permasalahan berdasarkan gambar saya ini dengan rumusan tadi!”.  Aku sedikit tersentak karena perintah pak Agus kepadaku dan tak perlu menunggu lama aku maju untuk langsung menghadap rangkaian gambar beserta beberapa keterangan di sekitarnya.

Senyumku mengembang lagi, aku sudah pernah mendapat soal semacam ini saat semester satu dulu dan tentu saja bukan sebuah masalah buatku karena aku sudah sangat hafal hingga di luar kepala.

Spidol ditanganku mulai ku tuntun untuk memecahkan masalah mekanika ini dengan lancar, aku benar-benar tak habis pikir mengapa dosenku yang satu ini sangat tidak kreatif hingga membuatnya mengeluarkan soal dengan level beginner seperti ini.

Tapi tunggu, ini… mana besar sudutnya? Massa zat cair yang berbeda? Dan apa lagi ini? Ketinggiannya berbeda dari dua sisi dengan tanpa diketahui pula?

“bagaimana Geytha? Bisa?”. Aku tersentak sekali lagi. Rupanya aku sudah mematung cukup lama di sini. Dan seperti Kikan tadi, aku akhirnya hanya tersenyum dengan penuh penyesalan.

Aku akhirnya duduk kembali di bangkuku setelah mendapatkan izin dari pak Agus. Lagi-lagi beliau hanya tersenyum misterius mengiringi langkahku kembali ke tempat duduk.

“Saya sudah beberapa kali sampaikan ke kalian semua bukan? Apa yang kita pelajari selama ini tidak cukup hanya untuk dihafalkan. Kalau kalian sekedar menghafalkan rumusan dan penurunannya tanpa paham hubungannya dengan rumusan yang lain, sama saja kalian hanya menghafal 1 + 1 tanpa tahu berapa uang kembali dari 2000 kalau kalian belanja 1500. ini tidak hanya berlaku untuk matakuliah saya, saya rasa semua matakuliah dan semua jurusan juga tidak butuh hafalan kalian, tapi pemahaman kalian. Masa-masa hafalan yang tidak penting untuk UN baik SMP maupun SMA kalian sudah berakhir! Ya begini ini kalau mahasiswa hanya menghafal tanpa memahami. Jangan-jangan semasa dulu kalian kalau dapat kisi-kisi ujian hanya menghafalkan jawabannya ya? Makanya kalau soalnya dirubah sedikit saja sudah bingung”. Suara pak Agus menggema dalam ruangan, bersaing dengan suara hujan yang mulai deras di luar. Mungkin bila beberapa detik lagi muncul petir di tengah-tengah hujan, nasehat pak Agus akan semakin menggelegar.

“Tugas ini saya jadikan tugas rumah untuk kalian semua. Jadi jangan lupa dikerjakan secara individu dan dikumpulkan minggu depan. Terimakasih”. Tutup pak Agus yang diikuti dengan langkahnya keluar ruangan kelas.

 

—–

 

Terdengar tawa siswa-siswa berseragam putih-biru di suatu sudut kantin sekolah. Sekelompok siswa seumuran tadi sepertinya tengah membicarakan salah satu guru mereka hingga heboh. Aku hanya melihat mereka dari kejauhan, mereka adalah teman-temanku, ya setidaknya itu dulu atau lebih tepatnya dua bulan yang lalu. Sebelum ini aku selalu berada diantara mereka, menertawakan hal yang sama dengan apa yang mereka tertawakan, menanggapi apa yang mereka seriuskan, dan memahami apa yang mereka bicarakan. Namun sekarang aku duduk sendirian di bangku asing sambil menatap mereka dan membayangkan apa saja yang mereka bicarakan. Secara teknis aku memang tidak benar-benar sendirian, aku bersama dengan beberapa kakak kelas yang sejak dua bulan yang lalu menjadi teman sekelasku. Bukan, bukan mereka yang sengaja turun kelas untuk bisa sekelas denganku, tapi aku yang memisahkan diri dari kawananku untuk bergabung di kelas satu tingkat diatasku.

Tiba-tiba waktu begulir dengan sangat cepat hingga membuatku tak sadar kalau aku sudah tidak berada diantara siswa putih-biru lagi, namun kini seragam putih-abu-abu yang melekat di tubuhku. Pandanganku tak berpindah dari ujung kantin yang berisi teman-teman lamaku. Lebih tepatnya, merekalah teman baruku saat aku merasa asing di SMP karena harus mengikuti kelas mereka yang berada satu tingkat di atasku. Bukan perkara mudah untukku mencari teman baru, namun saat aku sudah bisa beradaptasi dengan mereka, rupanya lagi-lagi aku harus meninggalkan temanku karena harus bergabung dengan orang-orang asing yang kelasnya berada setingkat diatasku.

Aku mengerjap. Lagi-lagi bayangan kesepian yang kurasakan saat masa SMP dan SMA menghantuiku lagi. Hujan diluar belum juga reda sejak kuliah pak Agus tadi berakhir hingga aku sampai di kos dan selesai mandi. Ku buka document keeper yang berada di rak bukuku perlahan. Satu deni satu ijazah-ijazah dan piagam maupun sertifikat yang pernah kudapatkan semuanya tertata rapi disini. Dua piagam yang saat ini sedang kubaca sangat mengusikku. Piagam akselerasi.

Lagi-lagi aku mengutuk diriku sendiri karena ambisi ini. Aku mati-matian menghafal materi yang kudapatkan hanya untuk dua piagam yang ku dapatkan semasa SMP dan SMA ini sekaligus kesepian tiap upacara kelulusan. Meskipun begitu aku sadar sekarang memang sudah bukan saatnya untuk merutuki diri sendiri, kini aku sudah berada di bangku kuliah tahun ketiga walau bagaimanapun aku harus tetap terima apabila ada mahasiswa baru yang memanggilku “adik” karena memang nyatanya umurku masih lebih muda dari pada mereka.

Ah iya, kenalkan, aku Geytha Putri Mirrota. Orangtuaku sangat bangga akan namaku yang berarti “Geytha seorang putri yang cerdas”. Dan doa yang diberikan orang tuaku lewat nama ini sangat berarti untukku, minimal untuk satu rahasia yang akan ku bagi kepada kalian. Rahasia itu adalah, aku adalah seorang penjelajah waktu!

——————————————————————————————————————-

 

cerita ini memang secara garis besar pengalam saia sendiri, termasuk nama akhir “Geytha” yang saia ambil dari nama akhir saia. bukan, bukan toko batik. tapi tetap saja ada beberapa yang perbedaan antara saia dan Geytha, salah satunya disini Geytha yang sangat ingin mendapatkan sertifikat akselerasi itu dengan usahanya, sedangkan saia cenderung menghindari tapi tetap menjalani kare faktor eksternal.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s